Banyak makan
Dalam pandangan ulama, banyak makan memang dianggap sebagai salah satu pintu utama kerasnya hati.
Bukan karena makanannya haram, tapi karena efeknya ke ruh dan ibadah.
1. Dalilnya
Nabi ﷺ bersabda:
"Tidaklah anak Adam memenuhi bejana yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap untuk menegakkan punggungnya. Jika harus lebih, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumnya, dan sepertiga untuk napasnya." (HR. Tirmidzi)
Ulama menjelaskan hadits ini adalah kaidah kesehatan hati, bukan hanya kesehatan badan.
2. Apa kata ulama salaf
-
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan, banyak makan melahirkan 6 kerusakan: hilangnya rasa takut kepada Allah, hilangnya rasa kasih sayang kepada makhluk karena dia mengira semua orang kenyang sepertinya, berat untuk taat, tumpul pendengaran saat mendengar hikmah, kalau memberi nasihat tidak membekas, dan mengundang berbagai penyakit.
-
Sufyan Ats-Tsauri berkata: "Jika kamu ingin hatimu lembut, maka sedikitkan makan."
-
Imam Syafi'i berkata: "Aku tidak pernah kenyang sejak 16 tahun, karena kenyang itu memberatkan badan, mengeraskan hati, menghilangkan kecerdasan, mendatangkan ngantuk dan melemahkan ibadah."
-
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam Madarijus Salikin memasukkan banyak makan dalam 5 perkara yang merusak hati: banyak bergaul, banyak berangan-angan, banyak bergantung pada selain Allah, banyak makan, dan banyak tidur.
3. Kenapa bisa mengeraskan hati?
Ulama menjelaskan rangkaiannya begini:
Banyak makan -> badan berat dan ngantuk -> malas shalat malam, malas puasa sunnah -> syahwat lebih kuat -> hati sibuk dengan nikmat perut -> sulit menangis, sulit khusyuk, nasihat tidak masuk.
Jadi bukan makan yang bikin hati otomatis hitam, tapi kenyang yang terus-menerus membuat hati tidak peka.
4. Solusi yang diajarkan ulama
Bukan disuruh tidak makan, tapi muqill atau menyedikitkan:
- Makan saat lapar, berhenti sebelum kenyang benar
- Puasa sunnah Senin Kamis, Ayyamul Bidh
- Menghindari makanan berlebihan apalagi yang syubhat
- Memperbanyak dzikir dan Al-Qur'an saat perut ringan, karena saat itu hati lebih lembut
Intinya, ulama tidak melarang menikmati makanan halal, yang dicela adalah pola al-israf atau berlebih-lebihan sampai menjadi gaya hidup.

