Jika engkau sakit hati, orang lain pun punya hati
Jika engkau sakit hati, orang lain pun punya hati
Artikel Islami tentang Menjaga Hati Sesama
Pernahkah kita tersinggung oleh satu kata saja? Dada sesak, malam jadi tidak nyenyak, pikiran terus memutar kalimat itu.
Jika satu kata saja bisa melukai kita sedalam itu, mengapa kita begitu mudah melontarkan kata yang sama kepada orang lain?
Kita sering lupa, hati yang kita sakiti itu sama persis dengan hati kita. Sama-sama rapuh, sama-sama ingin dihargai.
1. Hati adalah pusat pandangan Allah
Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian." (HR. Muslim)
Manusia menilai dari luar, Allah menilai dari dalam. Hati yang terluka karena lisan kita adalah urusan besar di sisi Allah. Luka fisik bisa diobati, luka hati sering kali dibawa sampai mati, bahkan sampai ke akhirat dalam bentuk tuntutan.
Allah berfirman:
"Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata." (QS. Al-Ahzab: 58)
Ayat ini turun bukan untuk orang kafir saja, tapi untuk kita yang mengaku beriman, namun lisannya masih gemar menyakiti.
2. Islam mengajarkan empati, bukan hanya ibadah
Definisi Muslim yang baik menurut Rasulullah sangat sederhana dan sangat dalam:
"Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Bukan yang paling banyak shalat sunnahnya, bukan yang paling fasih ceramahnya, tapi yang orang lain selamat dari lisannya.
Kita sakit hati jika dihina. Orang lain pun sama.
Kita sakit hati jika dibohongi. Orang lain pun sama.
Kita sakit hati jika diremehkan di depan umum. Orang lain pun sama.
Inilah yang disebut empati dalam Islam. Rasulullah SAW bersabda:
"Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri." (HR. Bukhari dan Muslim)
Jika engkau tidak suka diperlakukan kasar, jangan perlakukan orang lain dengan kasar.
3. Mengapa kita mudah menyakiti?
Karena kita merasa paling benar. Karena kita merasa sedang jujur. Padahal kejujuran tanpa adab adalah kezaliman.
Imam Syafi'i berkata: "Jika engkau ingin menasihati, nasihatilah secara rahasia, bukan di depan khalayak. Nasihat di depan orang banyak adalah penghinaan."
Banyak dari kita menutupi kebencian dengan dalih "aku kan orangnya ceplas-ceplos" atau "aku kan jujur". Islam tidak pernah mengajarkan jujur yang melukai. Islam mengajarkan qaulan karima (perkataan yang mulia), qaulan layyina (perkataan yang lembut), dan qaulan ma'rufa (perkataan yang baik).
4. Apa yang harus kita lakukan?
Jika kita yang tersakiti:
Ini adalah ladang pahala. Allah tidak pernah menyia-nyiakan air mata orang yang dizalimi. Maafkan jika mampu, karena memaafkan adalah akhlak para Nabi. Jika belum mampu, serahkan pada Allah. Jangan balas menyakiti. Hati yang disakiti adalah hati yang sedang didekatkan kepada Allah.
"Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh." (QS. Al-A'raf: 199)
Jika kita yang menyakiti:
Segeralah minta maaf. Jangan tunggu nanti. Dosa kepada Allah bisa dihapus dengan istighfar, tapi dosa kepada manusia harus dengan meminta maaf dan keridhaannya.
Jangan remehkan kalimat "saya minta maaf ya, kalau ada kata saya yang menyakitimu". Kalimat itu bisa menyelamatkanmu di hari kiamat.
Rasulullah SAW bersabda bahwa orang yang bangkrut di akhirat bukanlah yang tidak punya pahala, tapi yang pahala shalat, puasa, zakatnya habis untuk membayar orang-orang yang pernah ia sakiti lisannya di dunia.
Penutup
Saudaraku,
Sebelum menulis komentar, sebelum mengirim pesan, sebelum bercerita tentang aib seseorang, tanyakan pada hatimu sendiri:
"Jika kalimat ini ditujukan padaku, apakah aku akan sakit hati?"
Jika jawabannya iya, maka jangan tulis. Jangan ucapkan.
Karena di hadapan Allah, hati orang lain sama berharganya dengan hatimu sendiri. Jagalah ia, sebagaimana engkau ingin hatimu dijaga.
Ya Allah, jagalah lisan kami dari dusta, dari ghibah, dan dari perkataan yang menyakiti. Lembutkanlah hati kami untuk memaafkan, dan muliakanlah kami dengan akhlak Rasul-Mu.
Aamiin.

